Ketika hati menjerit

blogger templates
Assalamualaikum wr.wb

Mungkin dulu sewaktu kalian masih remaja pasti pernah mengalami yang namanya kegagalan cinta, entah bagaimanapun itu ceritanya. Dan mungkin sampai saat ini kalian masih terngiang atau masih merasa jengkel, atau ingin balas dendam terhadap orang yang telah menyakiti atau melukai perasaanmu, entah karena faktor di tolak atau memang dirimu yang benar-benar suka dengan alasan yang tidak jelas meninggalkan dirimu.

Begitu juga diriku yang mungkin ada yang sama dengan cerita kisahku ini dan sampai saat ini diriku masih belum mau menerima kenyataan karena saking pahitnya rasa yang diriku rasakan. "Mengapa sampai saat ini diriku merasa terluka dan tidak bisa menerima kenyataan?"

Sebenarnya alasan diriku sangat simple tapi menyakitkan hati dan baru kali ini diriku merasa tidak bisa melupakan akan hal itu. "Kisah cinta" ku kali ini  akan diriku curhatkan kepada blog kecil ini sebagai saksi bagaimana diri ini merasa tidak bisa melupakan akan perlakuan dirinya terhadap rasa yang aku miliki.


Oke saya akan ceritakan :

Sebut saja namanya n*sa mohon yang merasa namanya jangan tersinggung ya. Sebenarnya sejak dari kami masih SD diriku tidak seberapa mengenal dirinya. Dan kami berteman layaknya sebagai teman hanya sampai dengan bangku SMP. Waktu itu diriku merasa menyukainya karena faktor kesederhanaan yang ada pada dirinya dan kepintarannya dalam menanggapi semua konsep kehidupan yang ada, dan dia tidak neko-neko. Dan dia memang anak yang cerdas, dan diriku hanya menyukai dirinya sebatas menyembunyikan rasa saja, dan tidak mengungkapkan itu karena memang saat itu diriku masih belum pantas untuk yang namanya pacaran padahal sudah SMP. 


Dan kami tidak lagi pernah bertemu karena kami sudah lulus dari SMP, dan diriku melanjutkan sekolah ke jenjang SMK sedangkan dirinya melanjutkan ke jenjang MAN (Madarasah Aliyah Negeri). Sejak saat itu diriku tak pernah bertemu dengan dirinya hingga lulus. Karena ketidak mampuanku untuk melanjutkan kuliah akhirnya diriku memutuskan untuk bekerja saja daripada menyusahkan diriku dan keluarga, diriku bekerja dimana dulunya diriku sekolah, untuk pertama kalinya diriku bekerja sebagai teknisi dan perawatan sebuah Lab internet yang dimana digunakan siswa untuk belajar. Dan dari situ karena keuanganku serasa mencukupi untuk kuliah ku putuskan untuk melanjutkan kuliah saja dari pada diriku tak ada guna, dan sapa tau dengan diriku kuliah nanti akan merubah jalan kehidupanku kelak, entah nanti dapat berguna atau tidak title sarjanaku tidak masalah yang penting diriku menjalani dahulu. Diriku mulai masuk kuliah di STMIK (Sekolah Tinggi Teknik Informatika tepatnya jurusan TI) dan diriku masuk kuliah kisaran akhir tahun 2011.


Terhitung sudah hampir 3 tahun diriku tak pernah bertemu dengan dirinya dan bahkan diriku hampir lupa akan wanita yang dulu diriku sukai. Dan mulai semenjak kuliah entah dari mana ada nomor telepon baru yang menhubungi, entah darimana dia mendapatkan nomorku itu, dan ternyata nomor itu adalah nomor miliknya. Mungkin hati ini merasa senang dan serba salah waktu menanggapi telponnya itu dan intinya dia meminta tolong, karena dia sudah mau hampir selesai untuk masa kuliahnya.

Jujur sejak saat itu kami sering berhubungan walaupun itu hanya lewat telepon saja dan sejak saat itu saya berfikir apakah benar diriku memang telah suka terhadap dirinya, tapi diriku menampik itu semua karena memang diri ini memang tak pantas untuk dirinya. Tapi seiring waktu kami sering berhubungan ataupun bertemu secara langsung diri ini sepertinya memang telah menyukai dirinya, tapi saat itu diri ini tak mampu untuk mengungkapkannya  dan masih banyak keraguan.

Waktu demi waktu sudah hampir 3 bulanan kami sering berhubungan  dia mulai curhat kepada diriku tentang segala hal masalah yang sedang dihadapinya. Karena entah mengapa dia mulai senang mencurhatkan masalahnya terhadap diriku, dan itupun membuat diriku menjadi bingung juga menanggapinya.  Hari-hari berganti, dan berganti pulalah persoalannya itu dan dia mulai tidak kuat bercerita tentang kekasihnya yang selalu tidak merespon maksud dan tujuannya. Dan diriku merasa bingung kenapa dia hanya menjawab tidak tahu.

Dan sejak saat itu diriku mulai bisa menenangkan fikiran tentang kekasihnya itu. Sebetulnya saya juga tidak tega dengan dirinya dengan kondisi yang sering disakiti oleh kekasihnya dan sering juga dia sakit di tempat dimana dia tinggal dikost-kost'an. Sejak saat itu diriku berniat untuk selalu ada dan mengadakan apa yang dia ingini karena keluarga dengan dimana dia tinggal sangatlah jauh. Sedangkan keluarganya selalu meminta pertolonganku untuk selalu ada dan membantu dia yang jauh di tempat dikost dimana dia kuliah.


Waktu terus berjalan hingga akhirnya dia wisuda atau lulus kuliah dengan gelar S.Pd. jurusan matematika. Saat itu saya sangat senang karena dia sudah lulus. Tapi persoalan dengan kekasihnya tak juga kunjung selesai yang dimana diriku baru mengetahui karena memang dia sering curhat juga terhadap diriku. Karena semenjak dia lulus dia sering dirumah dan disitulah  diriku sering main kerumah dirinya. Dan tidak diriku sangka ternyata keluarganya menganggap diriku adalah kekasih baru buat si n*sa padahal kenyataannya tidak seperti itu. Diriku main hanya sekedar sebagai teman ya walaupun sebenarnya diriku menyimpan rasa suka terhadap dirinya.

Dan suatu semenjak diriku main dirumahnya keluarganya beranggapan bahwa diriku memang orang yang pas untuk dirinya terutama ibundanya sangat berharap diriku mendekati si n*sa dari pada kekasihnya yang memang yang baru diriku tau bahwa kekasihnya tidak disukai karena tidak mempunyai rasa sopan terhadap keluarganya dan saya bilang mungkin memang belum terbiasa dan ibundanya bilang memang benar adanya begitu, ya sudahlah diriku tak begitu memikirkan. 

Waktu demi waktu dijalani begitu keluarga dia juga beharap bahwa diriku untuk mendekatinya ya apa boleh buat diriku pun mencoba untuk mendekatinya, dan diriku pun mengungkapkan rasa suka terhadap dirinya dan memang kenyataan memang diriku telah suka, kemudian dia hanya menjawab akan mempertimbangkannya karena dia tidak bisa melupakan kekasihnya walaupun memang dirinya yang sering tersakiti, dan diriku memberikan kesimpulan bagaimana kalau kita coba, dia menjawab ya sudah iya.

Maka sejak saat itu diriku mencoba selalu ada untuk dirinya dan menyayanginya sepenuh hati. dan memang benar adanya diriku menyukai dia. Entah bagaimana perasaan ini seperti terhipnotis dan tak mau lepas dengan dirinya. Dia merasa senang juga terhadap diriku yang mencoba menyayangi diriku juga. Hari-hari dilalui terasa indah untuk kami berdua dan keluarganyapun menerimaku juga karena memang keluarganya sangat antusias terhadap diriku, aku marasa bagian dari keluarga mereka.

Dan suatu saat dia dihubungi oleh kekasihnya yang dahulu karena sudah lama dia tak menghubunginya dan dia memutuskan untuk mengakhiri kisah cinta dengan kekasihnya akan tetapi dunia seperti terbalik 180 derajat karena kekasihnya tak mau menerima kenyataan. Akhirnya dia menceritakan itu semua kepada diriku, karena memang dihatinya masih terukir nama kekasihnya itu.

Akhirnya dia meminta izin kepada diriku untuk menemui kekasihnya untuk menyelesaikan semua dan dari situ instingku akan merubah kisah ini karena pertemuannya itu pasti akan ada sebab yang akan memutar segalanya.Dan diriku sangat mengkhawatirkan itu semua, bagaimana tidak, bagaimana kalau dia berbalik lagi dengan kekasihnya? bagaimana dengan perasaanku yang sudah terlalu sayang kepada dirinya, dan bagaimana kehidupanku nantinya seribu pertanyaan yang ada diotakku tapi ya sudahlah diriku berfikir kalau memang bukan jodoh ya mau bagaimana lagi.

Ternyata yang diriku fikirkan selama ini benar adanya semenjak pertmuan dengan kekasihnya itu dia berbicara denganku pun jarang dan aku tanyakan kepada dirinya ternyata benar dia kembali lagi dengan kekasihnya. Dan hatiku sangat terpukul akan kejadian itu semua serasa semua sudah hancur ketika diriku mulai sayang dia menghancurkannya semua. Memang dia benar hanya mencoba untuk mencintai dirku tapi berbeda dengan diriku yang memang benar suka terhadapnya.

Dan semenjak saat ini keluarganya mempertemukan diriku dengan dirinya dan di tanyakan kepada diriku dan dirinya apakah kami saling mencintai dan diriku hanya menjawab "Iya bu pak saya sangat sayang dan cinta padanya tapi saya tidak tau dengan dirinya?", dia menjawab dan cukup membuat diriku terpukul sekaligus terluka atas jawabannya "Bapak dan ibu kan sudah tau dari dulu sampai sekarang saya tidak bisa melupakan kekasihku dan aku sangat sayang pada kekasihku" dari pernyataan tersebut baik aku ataupun keluargaku dan keluarganya sangat terkejut akan keputusannya lantas selama ini di anggap apa diriku? apakah hanya sebagai penghibur luka lara dihatinya? atau hanya sebagai pelampiasan saja?

Dirku merasa kaku dan depresi sekali akan kejadian itu mengapa hal ini terjadi pada diriku apakah memang dir menyengajakan aku tak tau apa lagi yang harus aku lakukan, yang ada hanyalah rasa luka dengan begitu entengnya dia menjawab seperti itu tanpa memikirkan perasaan orang lain. Aku berharap pada catatan kecilku yang tidak begitu lengkap ini hanya berdoa ya allah berilah dia pembalasan yang setimpal akan hal yang aku rasakan sekarang dari karena diriku menuliskan ini tidak sanggup. Hanya Allah dan diriku yang tau akan perasaanku, dan yang membuat diriku merasa sakit ketika bertatap muka dan keluarganya selalu meminta pertolongan pada diriku untuk segala hal, seperti pemanfaatan saja aku ini. seberti sapi yang di perah tenaganya saja dan sudah selesai di tinggal seperti itu saja dan tak di beri makan. Apakah ini adil untuk nya ? bagaimana denganku? mungkin pembaca dapat menerjemahkan perasaanku saat ini dan saya berharap pembaca tak merasakan hal yang seperti ku hadapi. 

Yang ada hanyalah doa terburuk yang menimpanya karena kepalaku serasa terinjak injak karena dia berkata seperti itu di depan keluarganya.  Walaupun dia saat ini bahagia dengan kekasihnya diriku berharap bahwa dirinya tak bahagia nantinya......

Karena luka ini sangat mendalam,


Begitu kisah cintaku yang mudah-mudahan tak ada dalam pembaca alami

Akhir kata wassalamualaikum wr.wb  

0 Response to "Ketika hati menjerit "

Post a Comment