Ketauhitan Horizontal

blogger templates
Akhir-akhir ini marak lagi tuduhan sesat yang jelas dimunculkan tentu saja bukan untuk golongan sendiri apalagi untuk menuduh diri sendiri. Menuduh orang lain sesat kalau disadari ternyata sangat-sangat butuh keberanian luar biasa karena sesat dan hidayah bagaikan dua sisa keping mata uang yang tak bisa dipisahkan dari “genggaman” Allah. Karena hanya Allah lah pemegang hak prerogratif untuk menyematkan kedua hal itu pada mahluk yang dikehendaki.
Namun betapa beraninya kita melangkahi hak-hak Allah. Kita membaca ayat-ayat Nya bukan lagi untuk menelanjangi diri. Bukan lagi untuk mengelupas lapisan demi lapisan yang menyempitkan dada. Secara sadar membaca ayat Allah disamakan dengan menghafal pasal-pasal buatan manusia sambil diam-diam menyematkan lencana penegak hukum ke dada sendiri. Mengkudeta halus posisi Al Hakim Menyublimkan diri menjadi illah-illah kecil. Akulah kebenaran...aku berhak menghukum karena akulah yang berkuasa...atas ilmuku...atas pengikutku...atas jaringanku...atas pengaruhku...atas simpati-simpati yang telah kuraih..La Haula wala quwwata Illa Billah entah ketlingsut dimana...Seakan dunia ini tanpa kita tidak akan menjadi benar.

Kita sudah kehilangan pegangan mana hak Allah mana hak mahluk. Kita tidak lagi sholat menghadap Allah. Kita sholat menghadap alam pikiran sendiri. Menyembah tafsir-tafsir, mahzab-mahzab, ideologi-ideologi, prasangka-prasangka, dan pengalaman-pengalaman ruhani yang tak seberapa dibanding Rasulullah yang super tawadhu dan rela hanya bertempat tinggal seluas nggak sampai duapuluh lima meter persegi demi menjaga cintanya yang tak tertandingi kepada Allah.

Kita menabrak-nabrak dengan gemuruh sifat api yang membakar dada. Mengumpulkan argumen-argumen baik dari yang klasik sampai post modern untuk kita muntahkan dihadapan diri sendiri dan kelompok. Kemudian kita kebingungan berjingkat-jingkat menghindari muntahan itu sendiri. Tiap hari kita disibukkan berjingkat dari muntahan sendiri. Karena setiap langkah identik dengan muntah. Suatu saat tiba-tiba kita terhenyak tiada lagi jalan yang bersih dari muntahan kita sendiri. Hidup menjadi terserimpung, tegang dan kaku. Dada kita terbakar oleh api yang kita ciptakan sendiri.

Apa yang Anda bayangkan bila suatu saat sang penuduh sesat dan tertuduh dalam puncak perselisihan bertemu dan berperang. Si penuduh maju tak gentar meneriakkan “Allaahuakbar” si tertuduh membela diri sambil meneriakkan “Allahummaa shalli 'alaa Muhammad” Maka negeri langit pun goncang...Para malaikat bingung dan berlari menuju singgasana Allah. "Ya Rabb ada dua kelompok mahlukMu yang berhadap-hadapan berbunuhan, yang satu mengangungkan namaMu yang lain memuliakan kekasihMu Muhammad. Hamba
mohon petunjuk untuk kelompok mana pahala dan dosa ditimpakan ?..."

Apa tafsiran jawaban kita terhadap jawaban Allah tentang kasus langka ini ? Itu tergantung kita ini menganggap seberapa besar Allah. Apakah hanya besar, agak besar, lumayan besar, pas besarnya sesuai ukuran keinginan kita, atau benar-benar maha besar tak terbatas tanpa “tedheng aling-aling” meliputi segala sesuatu baik yang menyembah maupun yang mengingkarinya. Atau juga seberapa besar cinta shalawat kita kepada rasulullah. Apakah cinta doktrin yang dipaksakan, cinta matre yang minta imbalan, cinta monyet yang mudah putus, cinta playboy yang kerjaannya tebar pesona atau bener-bener cinta tulus yang mengguncangkan dada hingga membuat diri selalu menangis sekaligus berbunga dan menjadi ramah kepada siapa saja yang ditemuinya.

Kalau kita gagal menemukan keMaha Besaran Allah, maka kerdillah diri kita seperti kita mengkerdilkan kekuasaan Allah. Kalau kita gagal mensuri tauladani cinta sang pecinta sejati Muhammad, maka pembencilah diri kita seperti orang yang membenci dan menuduh rasulullah sebagai orang gila berpenyakit ayan karena tidak mencintai benda dan kekuasaan.

Dan jangan-jangan kitalah yang sesat karena tidak dihidayahi Allah untuk membedakan mana benda mana cahaya, mana kata mana makna, mana lambang mana nilai, mana jalan mana tujuan, mana huruf mana kalam, mana api mana cahaya. Jangan-jangan kita ini yang sesat karena selalu dalam alam kegelapan yang hanya berilmukan rabaan prasangka logika dan kesimpulan-kesimpulan perolehan dihadapan manusia. Jangan-jangan orang yang kita tuduh tiba-tiba telah tersesat berada dalam surga karena Allah simpati sebab ia selalu dianiaya dan difitnah mahlukNya yang lain. Bukankah Allah Maha berkehendak ? Bukankah Allah selalu mendengarkan doa orang yang teraniaya ?...

Maka bila engkau ingin mendapat surganya, sesatkanlah...aniayalah diri sendiri dengan memerangi kegelapan hawa nafsu sampai tak tampak mahluk apapun selain aku dan AKU.

Maka tibalah waktunya disetiap pengajian-pengajian, organisasi-organisasi, partai-partai yang mengatasnamakan Islam, mengkaji kembali, menancapkan dalam hati dan fikiran makna-makna dalam surat Al Hujuraat. Memang isi surat ini bagi kondisi sekarang nggak trend, kurang heroik, nggak seru, tidak mencetak gambaran kepahlawanan, melunturkan kesukuan dan melemahkan doktrin aliran. Itu semua tergantung seberapa seriusanya iman kita terhadap Allah dan rasulnya.

Dan hanya diri kita sendiri yang tahu apakah kita sesat dengan mengukur dada ini sempit mudah bergejolak atau telah lapang, selapang padang mahsyar...

Wassalam
Dody Iskandar D

0 Response to "Ketauhitan Horizontal"

Post a Comment